fbpx

UAT testing adalah salah satu tahapan penting yang tidak boleh terlewatkan dalam suatu pengembangan aplikasi. Pasalnya, pengujian ini mencakup proses validasi apakah sebuah aplikasi telah memenuhi kebutuhan atau belum. Namun, sebenarnya apa itu UAT testing ini dan fungsi utamanya dalam pengembangan aplikasi?

Apa Itu UAT?

Pada dasarnya, UAT singkatan dari User Acceptance Testing, yakni sebuah proses penting yang harus dilakukan setelah proses coding dalam SDLC (Systems Development Life Cycle) atau yang juga dikenal dengan “After Development Process”

Proses SDLC ini sendiri melibatkan 3 proses penting, yang meliputi:

  • System Integration Testing (SIT);
  • Deployment; dan
  • User Acceptance Testing (UAT).

User Acceptance Test adalah tahapan akhir dari proses pengujian sebuah aplikasi. Pengujian ini mencakup semua fungsi yang terdapat pada aplikasi. Di bidang pengembangan aplikasi, UAT juga dengan dikenal dengan beberapa nama lain, seperti Acceptability Testing, Beta Application dan End-User Testing.

UAT sendiri dapat memberikan kesempatan pada pengguna untuk berinteraksi dengan aplikasi yang dibangun dan mencari tahu apakah semua fungsi aplikasi tersebut berfungsi dengan baik?

Fungsi User Acceptance Testing

Singkatnya, tujuan atau fungsi UAT testing adalah memvalidasi apakah aplikasi telah memenuhi kebutuhan dan juga persyaratan spesifik pengguna? Sebelum nantinya rilis resmi ke pasaran. 

Selain itu, User Acceptance Testing juga berguna untuk memastikan fungsionalitas dan juga keselarasan aplikasi dengan skenario dunia nyata (aksi pengguna). 

Jadi, tanpa metode testing ini, maka terdapat kemungkinan besar Anda akan melewatkan beberapa fitur aplikasi yang tidak sesuai atau tidak berfungsi. Hal tersebut pastinya akan berdampak buruk pada kepuasan klien dan juga operasional bisnis Anda.

Jenis-Jenis User Acceptance Testing

Melansir dari laman Usersnap, diketahui bahwa UAT testing adalah metode pengujian aplikasi yang terdiri dari 5 jenis. Adapun kelima jenis UAT tersebut adalah meliputi

1. Alpha & Beta Testing

Alpha Testing adalah jenis pengujian User Acceptance, yang umumnya dilakukan di lingkungan pengembang, oleh tim atau staf pengujian internal sebelum rilis ke pengguna internal. 

Sedangkan Beta Testing adalah pengujian yang dilakukan di lingkungan pengguna, oleh pengguna ekstensif. Di dunia app development, Beta Testing ini juga sering disebut dengan istilah Field Testing.

Baik Alpha dan juga Beta Testing pada dasarnya adalah jenis pengujian user acceptance yang dilakukan sebelum sebuah aplikasi rilis ke tangan pengguna.

2. Contract Acceptance Testing (CAT)

Jenis User Acceptance Testing yang kedua adalah Contract Acceptance Testing (CAT). Proses pengujian aplikasi ini umumnya berdasarkan pada kriteria penerimaan dan juga spesifikasi tertentu, yang telah pihak pengembangan dan klien sepakati dalam kontrak. Penetapan kriteria dan spesifikasi ini terjadi selama proses negosiasi kontrak.

3. Regulation Acceptance Testing (RAT)

Regulation Acceptance Testing (RAT) atau yang juga dikenal dengan sebutan Compliance Acceptance Testing adalah jenis pengujian yang bertujuan memeriksa apakah aplikasi telah pengembang bangun sesuai aturan yang ada? 

Aturan yang kami maksud di sini adalah merujuk pada peraturan hukum yang pemerintah tetapkan mengenai app development.

4. Operational Acceptance Testing (OAT)

Operational Acceptance Testing (OAT) adalah jenis proses pengujian yang memiliki tujuan untuk memastikan terdapatnya alur kerja yang memungkinkan aplikasi untuk dapat digunakan. 

Di dalam pengujian ini, terdapat beberapa hal yang mencakup alur kerja yang perlu Anda pastikan, yaitu rencana pencadangan, pelatihan pengguna, fase pengujian dan juga proses pemeliharaan serta pemeriksaan keamanan.

5. Black Box Testing

Jenis UAT testing yang terakhir adalah Black Box Testing. Jenis pengujian ini sendiri termasuk sebagai alat pengujian fungsional. Pengujian Black Box ini dilakukan dengan menganalisis fungsionalitas tertentu dari sebuah aplikasi, dengan kondisi yang mana pengguna (penguji) tidak mengetahui struktur kode internalnya. 

Hingga hari ini, terdapat banyak app developer yang menggunakan Black Box Testing ini sebagai bagian dari proses User Acceptance Testing mereka.

Source: Freepik

Tantangan dalam UAT Testing

Di dalam pengembangan suatu aplikasi, tentunya terdapat beberapa tantangan yang akan muncul. Hal tersebut juga berlaku pada proses User Acceptance Testing. Pada kebanyakan kasus, terdapat beberapa tantangan yang biasanya terjadi pada tahap pengujian ini. Adapun beberapa contoh tantangan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Potensi Kesalahan pada Test Case

Salah satu kendala atau tantangan dalam UAT testing adalah kemungkinan terdapat kesalahan pada test case. Maka dari itu, functional tester sebagai orang yang memahami konsep pengujian aplikasi, wajib untuk melakukan peninjauan kembali. Jika peninjauan kembali ini terabaikan, maka User Acceptance Testing termasuk belum ideal.

2. Functional Tester Harus Menjalankan UAT

Meskipun aplikasi telah rilis ke pengguna atau pasar, masih terdapat kemungkinan pengguna menemukan isu atau bug pada aplikasi. Demi mencegah hal tersebut, functional tester juga harus melakukan pengujian UAT ini, sebagai bentuk cross check.

3. Komunikasi Menjadi Hal yang Penting

Kurangnya komunikasi antara tester, developer. business analyst, dan pihak terkait lainnya dalam mengkomunikasikan masalah, dapat menjadi kendala dalam proses User Acceptance Testing

Pasalnya, kurangnya komunikasi ini akan mempengaruhi timeline pengembangan aplikasi dan juga perbaikan bug atau error yang muncul pada aplikasi. Jadi, tidak berlebihan jika komunikasi termasuk elemen penting dalam proses UAT.

4. Penggunaan Data Real

Pengguna real data juga menjadi hal penting yang mempengaruhi kesuksesan proses User Acceptance Testing. Pasalnya, penggunaan data dummy pada pengujian user acceptance akan menyebabkan sejumlah isu dan munculnya gap yang tidak terdeteksi saat pengujian. 

Oleh sebab itu, ketika proses pengujian user acceptance suatu aplikasi, menyiapkan data real adalah salah satu keharusan.

Siapa yang Bertanggung Jawab atas User Acceptance Testing?

Sesuai dengan sebutannya, pihak paling penting yang harus terlibat dalam User Acceptance Testing adalah end user atau pengguna akhir.

Tahapan test case dari pengujian user acceptance ini umumnya akan disiapkan oleh pihak business analyst (yang umumnya adalah klien atau pengguna), yang kemudian ditinjau oleh pemilik bisnis.

Demi memahami lebih banyak mengenai pihak yang terlibat dalam pengujian ini, Anda dapat mempertimbangkan untuk membaca dokumentasi atau contoh User Acceptance Testing yang tersedia di pencarian internet.

Telah Lebih Paham tentang Apa Itu UAT Testing?

Jadi, UAT testing adalah proses pengujian akhir dari sebuah aplikasi sebelum rilis ke pengguna atau pasar. Penerapan pengujian user acceptance sendiri mencakup semua fungsi yang terdapat pada aplikasi. 

Proses User Acceptance Testing terbagi atas 5 jenis berbeda, yaitu Alpha & Beta Testing, Contract Acceptance Testing, Regulation Acceptance Testing, Operational Acceptance Testing, dan Black Box Testing.

Khusus proses User Acceptance Testing sendiri, saat ini terdapat banyak perusahaan Quality Assurance (QA) yang menawarkan paket layanan pengujian aplikasi ini. Salah satunya adalah Smartek Sistem.

Perusahaan QA ini menawarkan layanan manual testing dan automated testing untuk memastikan sebuah aplikasi dapat bekerja dengan performa terbaiknya. Selain itu, Smartek Sistem juga memberikan laporan bug secara detail, yang akan mempermudah proses perbaikan aplikasi ke depannya.

Hai! Butuh bantuan?
#
Agent (Online)
×

Butuh bantuan? Chat kami di WhatsApp untuk pertanyaan apa pun.